Skip to main content

Tentang Ayah

ini adalah suatu cerita. tentang ayah.

agaknya sudah lama otakku tidak menjadi pelabuhan pikiran akan ayahku. namun, beberapa hari yang lalu aku dapati satu catatan tentang ayah di notes teman sekolahku dulu. catatan yang membuat aku tak menyadari bahwa air asin itu bertetesan dari kedua bola mataku. sebuah catatan yang membuat aku menyadari bahwa aku rindu sosok ayah.

terakhir ketika aku masih duduk di bangku sma, aku dan tiga orang diantara beberapa sahabatku, berbincang tentang ayah.

kami bercerita sedikit. tentang ibu dan juga tentang ayah.

ayahku tak lagi tinggal bersamaku,” kataku cepat.

"aku juga,” jawabmu.

siang itu aku tahu, ayahmu berpulang sehari sebelum ulang tahunmu, hampir setahun lalu. meninggal karena sakit.

“tapi perginya ayahku bukan pergi seperti itu,” kataku lagi.

dan aku tak lagi meneruskan kisah tentang ayahku. bukan sesuatu topik yang dengan mudah kubagi. dan kita kembali berbagi tutur tentang hal lain.

di sela perjumpaan-perjumpaan kita, sesekali kau juga berkisah tentang keluarga hangat di barat Jakarta itu. tentang adik yang kerap kau jahili. tentang kakak yang selalu menasehatimu jika kamu bercerita tentang pacarmu. tentang kakak ibumu yang sangat protektif. tentang almarhum ayahmu yang penuh kasih sayang.

kau tahu aku selalu senang mendengarkan cerita tentang keluarga yang dikabarkan oleh orang-orang di sekelilingku. setiap kali mendengar mereka berbincang tentang anggota keluarga yang lainnya aku seperti merasakan ada banyak kasih yang meruap dari cerita mereka.

namun ada satu cerita hidup tentang sahabat baikku, berbagi cerita tentang ayahnya. dan bagian tentang ayahnya menjadi lebih banyak kudapat di saat kita mengakhiri suatu perbincangan di kala kami bertukar cerita di kamarku tentang berbagai kisah.

waktu itu kita sedang berbicara apa ya? aku lupa, namun yang aku tahu, kau berbagi tentang ayahmu. bagaimana besarnya rasa cintanya terhadap ibumu. bagaimana kau memberi semangat pada ayahmu karna cintanya yang kini tak terbalas oleh ibumu. bagaimana kau menyelesaikan masalah dengan ayahmu.

dan aku ganti berbagi. sesuatu tentang ayahku. laki-laki yang tak pernah ada dalam beragam momen penting yang ada dalam hidupku. aku bercerita banyak, tentang menumpukan semua kesalahan pada ayahku, tentang rasa benci yang menebal dari hari ke harinya, tentang titik balik dalam hidup, juga tentang memaafkan dan berdamai dengan semua.

malam itu kita bercerita, tentang ayah-ayah kita.

aku terbiasa hidup tanpa ayah. mungkin karena terbiasa, rasa kehilangan akan ketiadaannya dalam berbagai fase dalam hidup tak pernah lagi ku rasakan. terbiasa menghabiskan hari tanpa ayah membuat aku merasa hidupku sampai sekarang, tetap baik-baik saja. aku mencintai keluargaku. mencintai ibuku dengan sangat. menyayangi kakak dan adik sepupuku. dan sekarang, sejak titik balik itu, aku mulai belajar mencintai ayahku.

jadi, aku lupa bagaimana rasanya kehilangan. sesuatu yang mungkin sedang kamu rasakan di hari ini. beberapa setahun sejak ayahmu pergi. rasa kehilangan yang dimuati dengan keyakinan yang penuh kalau ia, ayahmu, tengah bersuka cita di alam sana. sebab kamu yakin ia orang baik. tak habis-habisnya orang mendoakan dirinya pada hari di mana ia pergi, dan setelah ia pergi.

setelah ini ku yakin masih akan ada cerita tentang ayah-ayah kita. tentang ayah mu yang bijak dan sederetan kisah lucu yang sempat dibuatnya semasa ia hidup. tentang aku yang tetap belajar mencintai ayahku dan merangkai doa agar ia selalu dalam keadaan baik. tentang ayah-ayah kita. ya, kita akan bercerita tentang laki-laki yang darahnya menitis dalam tubuh kita dan menuturkannya dengan rasa kasih.

untuk ayah,
aku percaya bahwa kau adalah sosok yang terbaik yang pernah aku miliki sejak aku menghembuskan nafasku, walau aku juga tahu bahwa di saat yang bersamaan kau tak ada di sisiku.
aku percaya kau mempunyai alasan yang kuat mengapa kini kita tak lagi berada di tempat yang bersamaan.
aku percaya bahwa saat ini dan detik detik berikutnya kau akan selalu mejagaku dengan ayat ayat doa yang melantun di bibirmu yang mungkin sekarang sudah menghitam karna kau perokok berat.
dan aku selalu percaya, bahwa kau akan tetap menjadi ayahku, sampai kita berdua berada di satu tempat yang sama, surga :)
amin

Love you, Dad

Comments

Popular posts from this blog

Teruntuk Perempuan Yang -Terserah-Mau-Kau-Sebut-Apa-

Selamat sore hari Jum'at! Selamat sore wahai kamu-kamu yang merindukan tempat untuk pulang. Sore ini, saya (iya, hari ini lagi mood ngomong saya biar lebih intim kedengerannya~), lagi rindu-rindunya banget sama sesosok perempuan, mungil, berkulit coklat, rambutnya dulu ngebob sekarang mungkin udah sebahu. Saya mau cerita sedikit tentang dia, tapi mungkin ada baiknya kamu sediain kopi buat nemenin Jum'at sore kamu untuk denger cerita saya. Karna barangkali ketika kamu baca ini, kamu akan sama rindunya seperti saya dengan sosok perempuan ini. Beberapa bulan yang lalu, kira-kira bulan Desember tahun 2014, saya masih sempet ketemu dia. Dulu rambutnya masih ngebob, kayak yang saya bilang tadi mungkin sekarang rambutnya udah sebahu. Perempuan ini dibilang periang juga nggak begitu, pendiem juga tergantung sikon, tapi yang saya tau stock air mata dia banyak soalnya dia hobi nangis...bukan, bukan hobi, tapi emang dia butuh nangis. Nangis buat dia udah kayak candu. Apapun...

I Just Suddenly Miss You - Part 2

Kata Afgan, jodoh pasti bertemu. Setelah gue lulus SMA kabar terakhir yang gue denger dari Acil itu dia mau masuk Akpol. Sedangkan gue ngelanjutin kuliah di universitas swasta. Tapi, siapa sangka tau-tau gue bisa ketemu dia lagi di universitas yang sama, jurusan yang sama, dan kelas yang sama pula. 2010. Akhirnya gue ketemu lagi sama si Acil. Begitu tau gue sama dia sama-sama satu kampus, dia langsung ngontak gue. Kita sempet beberapa kali ke kampus bareng. Apalagi waktu jamannya masih ospek, kalo dia sempet pasti di jemput gue dan ke kampus bareng. Namanya juga masih baru lulus SMA, wajar kalo masih kebawa suasana jaman sekolah dulu. Jadi pernah suatu kali gue pergi nonton berdua dia, nonton Ninja Assassin atau apalah namanya itu, di Puri. Gue sempet bilang sama dia kalo kita ketemuan aja di Puri. Tapi dia malah bilang, "Gue cowok. Selagi gue bisa kenapa lo harus jalan sendirian. Nggak gentle amat gue." ,ciegitu. Nggak ada yang spesial sih dari kejadian selama ...

The Art of Letting Go

"What is coming is better than what is gone." 6 tahun yang lalu saya pernah ketemu sama seseorang, anaknya nggak tinggi, putih, charming. Waktu itu saya masih punya pacar, begitu pun dia. Bisa ketemu dia pun juga karna dia lagi main sama pacar saya waktu itu. Terus entah sejak kapan dia jadi pembalap saya juga nggak tau, dia bisa-bisanya nikung temen dia yang notabene adalah pacar saya saat itu. Ya sayanya juga mau sih sama dia, hahaha. Saat itu hubungan saya sama pacar saya emang nggak bagus, dia sendiri sebenernya udah hampir putus sebelum ketemu sama saya. Dalih-dalih curhat ya kita jadi deket. Lupa awalnya gimana yang jelas hubungan kita makin deket. Saking deketnya saya sampe bertanya-tanya kita ini apa? Lalu beberapa hari atau malah minggu dia nembak saya. Terus saya tolak. Ppfftt. Setelah itu saya nggak pernah berhubungan lagi sama dia. Pokoknya saya akhirnya jadian sama orang lain. Selama bertahun-tahun berlalu saya awet sama pacar saya. Sampe akhirnya di per...